DINAMIKAHUKUM.COM – Kesehatan mental anak dan remaja menjadi isu yang semakin mendapat perhatian berbagai pihak. Tingginya angka kasus pengakhiran hidup pada anak usia sekolah menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan penuh perhatian bagi tumbuh kembang anak.
Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, sepanjang 2023 hingga 2025 terdapat 116 kasus pengakhiran hidup yang melibatkan anak usia 10 hingga 18 tahun. Selain itu, kasus terbanyak terjadi pada kelompok usia 13 hingga 17 tahun.
Fenomena tersebut menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat perlindungan terhadap kesehatan mental anak. Terutama pada masa transisi pendidikan dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama maupun dari SMP ke SMA.
Menjawab tantangan tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) berkolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia. Mereka menggelar program pemberdayaan keluarga di Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Program tersebut difokuskan untuk meningkatkan pemahaman orang tua, khususnya ibu, mengenai pentingnya pola asuh yang positif, komunikasi yang sehat, serta pendampingan terhadap anak dan remaja dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan.Kegiatan itu menjadi ruang edukasi bagi keluarga untuk memahami kesehatan mental anak secara lebih komprehensif.
Direktur Utama PNM, Kindaris, mengatakan keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk karakter sekaligus menjaga kesehatan mental anak sejak usia dini.
Menurutnya, pemberdayaan perempuan tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi rumah tangga. Namun, pemberdayaan juga berkontribusi terhadap kualitas pengasuhan dan tumbuh kembang anak di lingkungan keluarga.
“PNM percaya perempuan yang berdaya mampu membawa perubahan positif, baik di dalam keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Ketika seorang ibu memiliki akses terhadap pengetahuan, dukungan, dan peluang ekonomi, maka ia dapat menjadi fondasi yang lebih kuat bagi keluarganya,” ujar Kindaris dalam keterangannya.
Ia menambahkan, kesehatan mental anak merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan aktif keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Karena itu, melalui kolaborasi bersama KPPPA, PNM berupaya menghadirkan program yang tidak hanya meningkatkan kapasitas ekonomi perempuan prasejahtera. Selain itu, program ini juga memperkuat kualitas pengasuhan dalam keluarga.
Selain aspek sosial, program tersebut juga diarahkan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan klaster usaha berbasis potensi lokal.
Di Bajawa, PNM mendorong pengembangan usaha buah pala yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup besar bagi masyarakat setempat. Melalui pendampingan usaha, akses pembiayaan, serta pelatihan kewirausahaan, perempuan pelaku usaha ultra mikro diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha dan kesejahteraan keluarga.
Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan upaya membangun keluarga yang tangguh, baik secara ekonomi maupun sosial. Kemandirian ekonomi perempuan diyakini dapat menciptakan lingkungan keluarga yang lebih stabil sehingga berdampak positif terhadap perkembangan psikologis anak.
Program kolaboratif antara PNM dan KPPPA ini sekaligus menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal. Sebaliknya, pembangunan juga ditempuh melalui penguatan peran keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi anak.
Melalui peningkatan literasi pengasuhan dan pemberdayaan perempuan, diharapkan semakin banyak anak Indonesia yang tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, bebas dari kekerasan maupun perundungan, serta memiliki ketahanan mental yang kuat menghadapi berbagai tantangan kehidupan.














